Gigi geraham adalah jenis gigi yang memiliki permukaan lebar dan berfungsi utama untuk mengunyah serta menghancurkan makanan sebelum ditelan. Karena bekerja paling berat setiap harinya, gigi geraham juga menjadi bagian gigi yang paling sering mengalami masalah seperti gigi berlubang, nyeri atau sakit gigi, hingga gigi bungsu yang tumbuh miring karena kekurangan ruang untuk tumbuh.
Keluhan sakit gigi geraham bahkan menjadi salah satu alasan paling umum pasien datang ke klinik gigi. Sayangnya, banyak orang baru memeriksakan diri ketika rasa sakit sudah sangat mengganggu.
Padahal, pemeriksaan rutin dapat membantu mendeteksi infeksi pada gigi dan gusi lebih awal sebelum kondisi menjadi lebih serius.
Apa Itu Gigi Geraham?
Gigi geraham adalah gigi belakang atau posterior yang terletak di bagian paling belakang rongga mulut. Bentuknya lebih besar dan memiliki permukaan kunyah yang lebar dibanding gigi depan.
Pada manusia, gigi geraham terdiri dari:
Gigi Premolar (geraham kecil)
Gigi Molar (geraham besar)
Gigi premolar membantu menghancurkan makanan menjadi bagian lebih kecil, sedangkan gigi molar bekerja untuk menggiling makanan hingga halus sebelum ditelan.
Posisi dan Jumlah Gigi Geraham pada Manusia
Pada orang dewasa normal, jumlah gigi permanen adalah 32 gigi, termasuk:
8 gigi premolar
12 gigi molar (termasuk 4 gigi bungsu)
Sementara pada anak-anak, gigi susu berjumlah 20 dan belum memiliki gigi premolar. Gigi geraham susu anak biasanya mulai tumbuh sejak usia sekitar 13-19 bulan.
Fungsi Utama Gigi Geraham
Gigi geraham memiliki beberapa fungsi penting, antara lain:
Mengunyah dan Menghancurkan Makanan
Permukaan gigi geraham yang lebar membantu memecah makanan keras menjadi lebih halus sehingga lebih mudah dicerna.
Menjaga Stabilitas Gigitan
Gigi geraham membantu menjaga keseimbangan rahang atas dan bawah saat menggigit maupun mengunyah.
Menopang Bentuk Wajah
Kehilangan banyak gigi geraham dalam jangka panjang dapat memengaruhi struktur wajah dan kemampuan mengunyah.
Gigi Geraham Anak vs Gigi Geraham Dewasa
Gigi geraham susu pertama biasanya tumbuh pada sekitar usia 13-19 bulan.
Sementara gigi geraham permanen pertama sering muncul di usia sekitar 6 tahun dan dikenal sebagai “molar enam tahun”.
Banyak orang tua tidak menyadari bahwa gigi ini adalah gigi permanen, sehingga sering terlambat dirawat ketika mulai berlubang.
Gigi Geraham Bungsu: Kapan Muncul dan Apa Risikonya?
Gigi geraham bungsu biasanya tumbuh pada usia 17-25 tahun. Namun, tidak semua orang memiliki ruang yang cukup di rahang untuk pertumbuhannya.
Akibatnya, gigi bungsu dapat mengalami impaksi atau tumbuh miring. Kondisi ini dapat menyebabkan:
Nyeri rahang
Gusi bengkak
Sulit membuka mulut
Infeksi pada gigi di sebelahnya
Pada beberapa kasus, gigi bungsu yang bermasalah perlu dilakukan tindakan odontektomi atau operasi pencabutan gigi bungsu.
Masalah Gigi Geraham yang Paling Umum
Gigi Geraham Berlubang
Gigi geraham memiliki lekukan alami yang mudah menjadi tempat menumpuknya plak dan sisa makanan. Karena lokasinya jauh di belakang, area ini juga lebih sulit dibersihkan.
Jika tidak dibersihkan dengan baik, bakteri akan menghasilkan asam yang menyebabkan karies atau gigi berlubang.
Gejalanya dapat berupa:
Ngilu saat makan manis atau dingin
Makanan mudah terselip
Lubang terlihat kecoklatan atau hitam
Nyeri saat mengunyah
Pada tahap awal, gigi masih dapat ditambal. Namun jika infeksi sudah mencapai saraf, maka dibutuhkan perawatan saluran akar.
Gigi Geraham Bungsu Tumbuh Miring (Impaksi)
Impaksi adalah kondisi ketika gigi gagal tumbuh normal karena terhalang jaringan gusi, tulang, atau gigi lain.
Gigi bungsu yang impaksi sering sulit dibersihkan sehingga mudah menyebabkan:
Gigi berlubang
Radang gusi
Bau mulut
Nyeri berulang
Infeksi di sekitar gigi
Pemeriksaan rontgen panoramik biasanya diperlukan untuk menentukan posisi gigi bungsu sebelum tindakan odontektomi atau pencabutan gigi impaksi dilakukan.
Apa Penyebab Nyeri pada Gigi Geraham?
Sakit gigi geraham tidak selalu berarti gigi berlubang. Nyeri juga dapat disebabkan oleh:
Gigi retak
Infeksi gusi
Bruxism atau kebiasaan menggertakkan gigi
Gigi sensitif
Abses gigi
Impaksi gigi bungsu
Karena penyebabnya bisa berbeda-beda, pemeriksaan langsung tetap diperlukan untuk menentukan penyebab dan penanganan yang tepat.
Di klinik gigi modern, penggunaan dental microscope dapat membantu mendeteksi retakan kecil dan masalah gigi geraham lebih detail sejak tahap awal.
Cara Merawat Gigi Geraham agar Tidak Berlubang
Karena posisi gigi geraham lebih sulit dijangkau, perawatannya perlu dilakukan dengan lebih teliti. Beberapa langkah yang dianjurkan:
Menyikat gigi minimal 2 kali sehari menggunakan pasta gigi berfluoride
Membersihkan sela gigi menggunakan dental floss
Mengurangi konsumsi makanan dan minuman tinggi gula
Minum air putih setelah makan
Kontrol rutin ke dokter gigi setiap 6 bulan
Pada anak-anak, dokter gigi juga dapat merekomendasikan aplikasi pit & fissure sealant untuk melindungi lekukan gigi geraham dari risiko karies.
Kapan Perlu ke Dokter Gigi?
Segera lakukan pemeriksaan jika mengalami:
Nyeri gigi geraham lebih dari 1–2 hari
Gusi bengkak
Sulit mengunyah
Bau mulut menetap
Gigi bungsu tumbuh miring
Sensitivitas gigi yang semakin berat
Pemeriksaan lebih awal membantu mencegah kondisi berkembang menjadi infeksi yang lebih serius.
Kesimpulan
Gigi geraham memiliki peran penting dalam proses mengunyah dan menjaga fungsi gigitan. Namun karena posisinya yang sulit dibersihkan, gigi geraham juga menjadi area yang paling sering mengalami karies, nyeri, hingga impaksi gigi bungsu.
Pemeriksaan rutin membantu mendeteksi masalah sejak dini sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum kerusakan menjadi lebih berat. Dengan perawatan yang tepat, gigi geraham dapat tetap sehat dan berfungsi optimal dalam jangka panjang.
Referensi
Brett Zimmerman, Katherine R. Shumway, & Alex C. Jenzer (2023). Physiology, tooth. In StatPearls. StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK538475/
Robert, J. (2023). Dental anatomy understanding the structure and function of teeth. Journal of Interdisciplinary Medicine and Dental Sciences, 6(3), 32–35. https://doi.org/10.37532/2376-032X.2023.6(3).32-35

